KAREBA SULTENG, PALU- Seorang murid kelas I Sekolah Menengah Atas (SMA) Gamaliel Palu, berinisial J dilarikan ke Unit Gawat Darurat usai mengikuti praktek mata pelajaran olahraga (PJOK).
Kronologi kejadian berawal saat J mengikuti mata pelajaran olahraga (PJOK) pada hari Senin (18/5) 2026), dimana siswa tersebut mengalami pusing setelah mengikuti praktek.
Akibat hal tersebut, siswa SMA Gamaliel tersebut harus dirawat intensif di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Palu.
“Waktu anak saya dibawa ke UGD, tekanan darahnya 170/131, denyut jantung 140, dan suhu badannya 40,5. Anak saya menangis dan mengaku seperti mau meninggal. Sekolah ini harus dilakukan evaluasi untuk guru PJOK, dan kalau bisa kepala sekolah diganti,” ungkap ibu J, Vera saat audiensi bersama pihak sekolah, di ruang Kepala sekolah SMA Gamaliel, Kamis (21/5/2026).
Menurut penuturan anaknya, bahwa ia kurang fit untuk mengikuti praktek olahraga. Selain itu, anaknya tidak ingin jika masalah tersebut diketahui. “Berdasarkan WA anak saya, dia sepertinya tertekan. Dia tidak ingin masalah ini dketahui,” terangnya.
Guru olahraga (PJOK) SMA Gamaliel membeberkan bahwa saat praktek olahraga (games) siswa J sudah mengalami pusing, dan ia menyarankan untuk istirahat. Namun J meminta izin ke toilet. Kemudian ia menyuruh siswa lain untuk menyusul J.
Setelah praktek lari cepat (sprint), J tidak mampu lagi untuk mengikuti sprint sejauh 100 meter, dan hanya mampu lari hingga 50 meter saja. Kemudian J terlihat drop dan akhirnya duduk dan berbaring. Setelah sprint dilanjutkan dengan praktek jalan cepat, dan J masih mampu mengikutinya.
“Sebelum praktek, saya menanyakan kondisi fisik siswa apakah ada yang kurang sehat, ternyata ada dua orang siswa yang mengaku kurang fit, dan akhirnya saya menyarankan untuk tidak mengikuti praktek dan hanya disuruh melihat saja di lapangan. Saya juga menanyakan hal itu kepada J, tapi dia tidak memberitahukan perihal kesehatannya,” ujarnya.
Namun pernyataan tersebut dibantah oleh ibu korban. Ditegaskannya bahwa J tidak pernah menanyakan perihal kesehatan J.
“Menurut anak saya tidak ada pertanyaan seperti itu, dan jika anak saya tidak mengikuti praktek katanya dianggap alpa. Saya tau bagaimana kualitas sekolah ini, makanya saya percayakan anak saya sekolah di sini. Jangan akibat ulah satu dua orang, sekolah ini jadi jelek di mata orang tua murid,” tandasnya.
Kepala Sekolah SMA Gamaliel, Indra Matunggu mengaku siap menerima keputusan dari pihak yayasan
“Dalam hal ini kami tetap profesional. Jika orang tua meminta saya mundur dari jabatan kepala sekolah, ya silahkan, itu hak orang tua siswa. Hal ini saya serahkan kebijakan kepada yayasan, ” akunya
Kepala Cabang Pendidikan Wilayah I, Dinas Pendidikan Sulawesi Tengah, Kristi Aria Pratama berharap agar polemik tersebut bisa dibicarakan secara kekeluargaan, dan menyerahkan hal tesebut ke pihak yayasan, serta berharap pihak sekolah untuk melakukan evaluasi.
Sementara itu, Direktur Yayasan SMA Gamaliel, Deby Sunaris mengakui kekeliruan tindakan dari guru PJOK. Pihaknya juga akan melakukan evaluasi.
“Kami akan menindaklanjuti permasalahan ini, dan segera melakukan evaluasi,” ungkapnya.
Kunjugan sekaligus konfirmasi ke salah satu sekolah menengah atas favorit di Kota Palu tersebut, dihadiri Ketua FKUB Kota Palu, Dr. Ismail Pangeran dan sejumlah wartawan.**(FN)












