DAERAH  

20 Tahun Vakum, Festival Pomore Nu Ngana Kembali Semarakkan Desa Tulo

Festival Pomore nu ngana di Desa Tulo, Kabupaten Sigi/foto: istimewa

KAREBA SULTENG, DOLO- Festival Pomore Nu Ngana 2026 menjadi momentum penting bagi masyarakat Desa Tulo, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, dalam menghidupkan kembali berbagai permainan dan olahraga tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan.

Kegiatan yang digagas oleh Pemuda-Pemudi Merah Putih Tulo tersebut berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 28 hingga 31 Agustus 2026, dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat lintas usia.

Perhelatan budaya ini menghadirkan beragam perlombaan tradisional, di antaranya F1 Boa (gledekan/roda-roda atau lomba sepeda kayu), Mosaka Bau (menangkap ikan), Kadende (engklek), Kelar (halang rintang), Mompene Kalosu (panjat pinang) dan Tilako (enggarang).

Selain menjadi ajang hiburan rakyat, festival ini juga bertujuan memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda yang mulai akrab dengan permainan berbasis teknologi modern.

Ketua Panitia Festival, Makmur yang akrab disapa Muri, mengungkapkan bahwa Festival Pomore Nu Ngana merupakan kegiatan yang kembali dilaksanakan setelah vakum selama kurang lebih dua dekade.

Menurutnya, festival serupa terakhir kali digelar sekitar 20 tahun lalu dan kini dihidupkan kembali sebagai upaya melestarikan warisan budaya yang mulai terlupakan.

“Kami melihat banyak generasi muda yang lebih mengenal permainan modern, sementara permainan tradisional seperti menangkap ikan, hadang, tilako, kadende, dan berbagai permainan rakyat lainnya mulai ditinggalkan. Bahkan ada dua generasi yang nyaris tidak lagi mengenal permainan-permainan tersebut,” ungkap Makmur dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/8/2026).

Ia menjelaskan, inisiatif menghidupkan kembali festival ini dilandasi semangat menjaga identitas budaya lokal agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya. Melalui kegiatan tersebut, para pemuda berharap nilai kebersamaan, sportivitas, gotong royong, dan kearifan lokal yang terkandung dalam permainan tradisional dapat terus lestari.

Dari sisi partisipasi, festival tahun ini berhasil menarik perhatian ratusan peserta. Pada kategori F1 Boa atau mosaka bau alias menangkap ikan, tercatat sekitar 120 peserta ikut ambil bagian. Mayoritas peserta berasal dari kalangan pelajar sekolah dasar mulai kelas 1 hingga kelas 6. Kategori serupa juga diterapkan pada lomba hadang dan kadende yang diperuntukkan bagi anak-anak usia sekolah dasar.

Selain itu, panitia turut menghadirkan lomba panjat pinang untuk kategori dewasa serta pertandingan hadang khusus bagi kelompok ibu-ibu PKK. Ragam perlombaan tersebut dirancang agar seluruh elemen masyarakat dapat berpartisipasi dan merasakan semangat kebersamaan dalam festival.

Menariknya, meskipun kegiatan ini awalnya dirancang sebagai agenda tingkat desa, antusiasme peserta melampaui ekspektasi panitia. Tidak hanya diikuti warga Desa Tulo, peserta juga datang dari sejumlah desa dan kecamatan sekitar. Bahkan beberapa peserta tercatat berasal dari Kota Palu dan Kabupaten Donggala.

Festival Pomore Nu Ngana diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkelanjutan. Panitia berharap kegiatan tersebut mampu menjadi wadah edukasi budaya sekaligus sarana mempererat tali persaudaraan antar warga melalui pelestarian permainan tradisional yang menjadi warisan leluhur masyarakat Sulawesi Tengah.

Dengan semangat kolaborasi pemuda dan dukungan masyarakat, Festival Pomore Nu Ngana bukan sekedar ajang perlombaan, melainkan langkah nyata menjaga identitas budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi yang semakin berkembang.**