DAERAH  

Longsor di Bantaran Sungai Ganti Menyisakan Nestapa, Anleg DPRD Donggala Minta Pembangunan Talut

Kondisi bantaran Sungai di Kelurahan Ganti, Kabupaten Donggala/foto: SR

KAREBA SULTENG, DONGGALA-Hujan deras yang menguyur wilayah Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala sejak Minggu (11/1) berdampak terjadinya banjir dan tanah longsor, menyisahkan duka mendalam bagi pasangan suami istri bernama Sani dan Kamarudin warga Dusun Petobo Kelurahan Ganti.

Selain itu, juga nampak terlihat jalan penghubung trans sulawesi di beberapa titik mengalami kerusakan akibat banjir.

Musibah yang dialami korban terjadi akibat arus banjir yang sangat deras mengalir ke sungai, sehingga meruntuhkan dapur rumah dan tempat usaha bengkel motor milik warga tersebut.

“Dapur rumah dan bengkel saya habis terbawah banjir akibat dampak tanah longsor. Arus sungai banjir yang menuju ke laut sangat besar dikarenakan curah hujan yang cukup tinggi seharian di Banawa,” terang Asni.

Dalam keterangan singkatnya, ia juga menyebutkan isi perabotan alat dapur dan peralatan bengkel juga ikut hanyut terbawah arus banjir. Bahkan kata Kamarudin suami dari Asni, bahwa kebun pertaniannya yang luas 10 meter juga ikut diratakan banjir.

“Kebun saya itu berisikan kacang dan ubi, luasnya sekitar 10 meter persegi juga habis diratakan banjir. Dari dampak semua itu, kami mengalami kerugian berkisar puluhan juta.,” ujar Kamarudin saat ditemui di kediamannya, Senin (12/1/2026).

Berdasarkan pantau, di lokasi yang terdampak tanah longsor di Dusun Petobo tersebut, makin parah, karena sedikit demi sedikit tanah ini terkikis atau rubuh perlahan-lahan kebawah, dan kurang lebih berapa meter sudah mendekati dasar ruas jalan raya trans sulawesi.

Di tempat yang berbeda, Anggota DPRD Donggala dari Dapil Banawa dan Banawa Tengah, Firdaus, S. Sos dari Fraksi PKB yang dimintai keterangan terkait pasca bencana tanah longsor dan banjir yang terjadi di wilayah Donggala dan ia mengungkapkan bahwa kejadian tersebut segera ditangani.

Menurutnya, aliran sungai debitnya makin tinggi tiap tahunnya. Pola pemukiman keberadaan penduduk disepanjang aliran sungai pada waktu dahulu rumah-rumah penduduk yang berderet mengikuti alur sungai agak jauh dari sumber air tersebut.

Firdaus yang juga sebagai Anggota Komisi III DPRD Donggala menambahkan, lambat laun debit air bertambah dan mengikis bagian dasar tanah, sehingga mengakibatkan longsor total.

Olehnya, ia berharap kepada mitra pemerintah terkait dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meminta agar secepatnya memaksimalkan pembangunan talut tersebut.

“Saya dari Komisi III yang bermitra dengan dinas PU dan BPBD meminta secepatnya untuk memaksimalkan pembangunan talut, karena aliran sungai ini tidak main-main. Di lokasi tersebut juga nampak terlihat jalan penghubung trans sulawesi. Ini bisa menjadi sebuah tragedi yang cukup membahayakan,” tutur Firdaus.**(SR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *