Deg-degan Jelang Pileg, Siapakah Penghuni Singgasana DPD RI Dapil Sulteng?

PALU- Rabu, 14 Februari 2024, akan menjadi moment yang akan ditunggu-tunggu bagi para kontestan pemilihan legislatif.

Pasalnya, pada hari sakral tersebut, akan digelar pencoblosan serentak bagi para wakil rakyat di segenap penjuru Nusantara.

Moment tersebut, akan menentukan siapa sosok yang akan memikul tanggungjawab sebagai penyambung lidah masyarakat.

Segenap calon legislatif pemula maupun incumbent di Bumi Persada, akan menyingsingkan lengan bajunya untuk memenangkan perhelatan Akbar tersebut.

Tak terkecuali di Provinsi Sulawesi Tengah. Siapakah sosok yang akan duduk di kursi empuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD)?

Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Tengah, jumlah kontestan yang akan bertarung untuk memperebutkan kursi di DPD RI, sebanyak 22 orang.

Diantaranya, Aan Arif Latadano, Abcandra Muhamad Akbar Supratman.SH, Dr. Abdul Rachman Thaha, Ahmad Syaifullah Malonda.Sp, Andhika Mayrizal Amir. SH. M.Kn, Andi Parenrengi. ST, Arifin Sunusi. SH. MBT.

Kemudian Budiman Jaya Azhari, Eva Susanti H Bande. S. Sos, Febriyanthi Hongkiriwang. S. Si. Apt, Ikbal Basir Khan, Lukky Semen. SE, Ir. Moh. Faisal Mang.M.M, Mugira. SH, H Mustar Labalo. S. Sos. Mpd, Peri Cokroaminoto Dewantoro. S. Fil. I, Rafiq Alamri, Pdt Renaldi Damanik, Siti Zahria, Suhardi. S. Th. I, Ir. H. Syaifullah Dajar. M.Si, Ir. Trie Iriani Lamakampali. M.M.

Sementara, kuota untuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD) daerah pemilihan Sulawesi Tengah sendiri, hanya berjumlah empat (4) kursi saja.

Diantara 22 orang kontestan tersebut, mencuat 3 nama yang nota bene anleg petahana. Yaitu Ahmad Syaifullah Malonda. SP yang diketahui telah bercokol di kursi DPD sebanyak 3 periode.

Dimana Ahmad Syaifullah Malonda. SP sebelumnya anggota DPD RI periode 2009-2024 dan 2014-2019. Dengan raupan suara pada Pemilu 2014 sebanyak 102.977.

Ahmad Syaifullah Malonda kembali duduk di kursi DPD RI menjadi Pengganti Antar Waktu (PAW) almarhum Saleh Alfufrie

Setelah itu Dr. Abdul Rachman Thaha atau dikenal dengan slogan anak guru mengaji, dengan perolehan suara sah pada Pemilu 2019, sebanyak 182.389.

Kemudian Lucky Semen. Dengan suara sah pada Pemilu 2019 sebanyak 202.436.

Namun, bukan berarti ketiga Senator incumbent tersebut diunggulkan dan akan kembali duduk di kursi Parlemen Senayan kedepannya. Dikarenakan telah berpengalaman dalam dunia politik, serta selangkah lebih maju dalam hal finansial.

Karena calon legislatif DPD RI lainnya, tidak akan tinggal diam! Ibaratnya, para kompetitor tersebut juga akan mengerahkan segala daya upaya. Mengutip kalimat jenaka dari konten kreator medos. “Dengan menggadaikan nyawa, harta, tahta, singgasana hingga sertifikat tanah”.

Dalam hal ini, Caleg DPRD RI tentunya akan berupaya semaksimal mungkin untuk menarik simpati masyarakat. Entah dengan trik apapun. Intinya, tanggal 14 Februari, bisa meraup suara sebanyak mungkin.

Dari keseluruhan caleg DPD RI tersebut, tentunya ada yang serius dan totalitas tinggi untuk memenangkan suara. Akan tetapi, kemungkinan ada pula yang hanya sekedar coba-coba saja.

Terlepas dari dua point di atas, para kontestan pileg setidaknya berani untuk unjuk gigi dan meramaikan pemilihan legislatif tahun 2024.

 

Money Politic Atau Politik Jujur ?

 

Ada satu hal yang menarik untuk diutarakan. Hal ini sudah menjadi hal yang klasik dan telah menjadi rahasia umum. Namun terkadang sulit untuk dibuktikan. Apakah itu?

Money politic atau praktik politik uang! Atau lebih familiar lagi dikalangan masyarakat dengan ungkapan “Serangan Fajar”.

Serangan Fajar bukanlah sebuah film perjuangan Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah, namun merupakan istilah saat para Caleg memberikan sesuatu yang dikemas dalam bentuk apapun untuk masyarakat, guna meraih suara.

Awas ! Pelaku maupun penerima politik uang bisa dijerat Undang-Undang Pemilu Nomor 7 tahun 2017, dengan sanksi pidana menginap di hotel prodeo selama tiga tahun dan denda maksimal Rp 36 juta.

Banyak kasus Money Politic yang ditayangkan oleh media. Dimana calon legislatif tertangkap tangan melakukan praktek tersebut. Hal itu tentunya mencederai pesta Demokrasi yang seharusnya jujur dan adil.

Alangkah bijaksananya jika para calon legislatif menggunakan fair play politic saja. Daripada nantinya harus berurusan dengan hukum jika menerapkan praktik politik uang.

Nah ! Moment pencoblosan tinggal menghitung hari dan telah memasuki Minggu tenang. Pihak Bawaslu sendiri telah menertibkan seluruh Alat Peraga Kampanye (APK) para calon legislatif.

Detik-detik yang dinanti semakin tiba. Dag dig dug jantung calon legislatif, berdegup kencang. Seperti genderang mau perang!

Semoga dalam moment Pemilihan Umum serentak tahun 2024, berjalan dengan sukses dan aman. Dan para calon legislatif bisa berkompetisi dengan fair. Tanpa harus menempuh cara yang melawan aturan yang telah ditetapkan oleh penyelenggara Pemilu.**(FN)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *